4/17/2010

made by dian


-->dalam masa pergolakan batin (beuh, hehe) saya publish beberapa isi lemari (baca:folder) lapi yang rasanya sudah sah jika ditampilkan di blog ini, hihihi...karena sudah lewat event-nya (iseng-iseng saya ikutan journalist day yang diadakan FE UI dan ini tulisan yang saya ikut sertakan, hohoho...jangan dibata ya gan tapi dikirimi cendol, ok ok

:p )

Otak Cerdas dan Kreatif khas Indonesia

Mengapa Indonesia belum masuk kategori negara maju? Jawabnya mudah, karena Indonesia belum maju alias masih berkembang. Apa parameter suatu negara dikatakan maju? Maju dapat diukur dari kualitas SDM, tingkat kemakmuran, kemantapan sistem dan kelembagaan politik dan hukum. Salah satu yang menentukan baik tidaknya SDM di suatu negara adalah kecerdasan. Selama di bangku sekolah, kita lebih banyak dikenalkan pada para ilmuan luar negeri dan jarang sekali menemukan nama orang Indonesia di buku pelajaran. Namun, sebenarnya Indonesia memiliki aset negara yang memiliki otak brilian. Siapa yang tidak mengenal Bapak B.J. Habibie dengan rumus pesawat terbangnya atau David Hartanto yang meninggal karena televisi 3D penemuaannya yang luar biasa. Sedangkan di bidang kesenian, ada Gita Gutawa dengan lagu-lagunya yang khas dengan suara soprannya dan Udjo Ngalegana dengan saung angklungnya yang terkenal hingga mancanegara. Empat orang itu barulah sample dari sekian banyak orang brilian yang ada di Indonesia. Lalu ke manakah orang cerdas dan kreatif yang lain itu? Mereka tidak kemana-mana, mereka adalah orang yang sedang membaca artikel ini, hanya saja Anda tidak pernah menyadarinya. Inilah kesalahan yang sering dilakukan bangsa Indonesia tercinta ini. Kurang perhatian terhadap apa yang sudah dimiliki dan baru menyadarinya saat negara lain mengklaim sebagai miliknya. Ingat kasus tentang pengklaiman negara Malaysia terhadap budaya Indonesia? Apakah hal yang serupa ingin terulang lagi terhadap penemuan-penemuan yang dihasilkan oleh otak brilian Indonesia? Tentu saja tidak. Lalu apa yang harus dilakukan? Perlu dipupuk rasa bangga menjadi warga negara Indonesia dan karakter untuk tidak pernah berhenti berkarya. Tidak ada salahnya memiliki rasa narsis agar tetap eksis berkarya dalam hal yang positif. Di sisi lain, pemerintah juga perlu memotivasi dengan cara apapun agar warganya merasa nyaman berkarya di rumah sendiri sehingga makin banyak karya bermanfaat yang dihasilkan.

Perlu pengakuan
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa manusia normal membutuhkan pengakuan terhadap keberadannya di dunia ini, apalagi jika dari kemampuan yang dimilikinya mampu menghasilkan karya untuk kepentingan orang banyak. Tidak sedikit karya yang lahir dari buah pikir orang Indonesia banyak diakui oleh dunia, tapi Indonesia sendiri kurang memberi penghargaan terhadap karya yang dihasilkannya itu. Sepertinya Indonesia perlu memberikan diskon terhadap pengakuan agar karya berharga tetap menjadi milik Indonesia sehingga mampu meningkatkan kualitas SDM. Salah satu cara sederhana untuk mengakui karya itu adalah lebih menggencarkan publikasi prestasi atau karya melalui media, baik cetak maupun elektronik. Lebih baik memberitakan keberhasilan dalam berkarya untuk meningkatkan motivasi daripada memenuhi media dengan beragam berita negatif. Efek dari pelitnya pengakuan di negara sendiri ini adalah banyak anak bangsa yang lebih memilih ke negara tetangga untuk mendapatkan pengakuan dan banyak muncul kreativitas negatif yang justru menurunkan kualitas SDM Indonesia. Buktinya, Pak Habibie lebih memilih tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Banyak artis yang justru lebih banyak berlomba-lomba pamer kemolekan tubuh yang lebih banyak bertentangan dengan kepribadian bangsa ini demi tetap eksis dan mendapatkan pengakuan publik daripada berlomba meningkatkan kualitas karya seni yang digelutinya.
Jadi, apakah Anda masih berpikir bahwa SDM Indonesia itu rendah? Jika Anda masih beranggapan bahwa SDM kita kalah dari negara sekelas Amerika, tentu Anda salah besar. SDM Indonesia sebenarnya cerdas dan kreatif. Buktinya Indonesia memiliki beragam budaya di tiap daerah, beragam penemuan yang bermanfaat, dan prestasi yang mencengangkan dunia. Dari mana semua itu bisa muncul jika tidak dimulai dari berpikir menggunakan otak yang cerdas dan kreatif.

Journalist Day @ UI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar