10/15/2014

Selamat Ulang Tahun Bapak

Keluarga besar kami emang gag pernah merayakan ultah secara khusus. Kalaupun inget juga cuma ngucapin. Kalau lagi inget dan iseng biasanya selebrasinya ya makan bareng dengan menu yang gag biasanya dimakan sehari-hari. Bahkan saking cueknya kadang gag inget tanggal lahir anggota keluarga, hahaha. Entah ini suatu hal yang pantas dibanggakan atau layak dianggap biasa saja. Kejadian lupa tanggal lahir keluarga baru saja saya dan mas misua alami kemaren dan pagi ini dapat reminder dari yang bersangkutan, hehehe. Tadi pagi setelah subuh Bapak menelpon dan setelah ngobrol panjang lebar beliau nyeletuk dalam Bahasa Jawa yang artinya dalam Bahasa Indonesia adalah "kemaren Bapak ulang tahun gag ada yang ngucapin. padahal di Facebook keliatan tanggalnya. hahaha" jleb! Lantas saya dan mas misua langsung tertawa menertawakan kelalaian kami dan mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak. Kami sama sekali tidak ingat kalau Bapak kemaren ultah padahal kemaren sempet buka Facebook tapi gag memperhatikan notifikasi ultah, hihihi.

Bapak saya yang pojok kanan atas. Foto ini diambil saat beliau ke Istana Negara.

FYI, Bapak saya yang berulang tahun kemaren adalah Bapak mertua saya, bapaknya mas misua. Berhubung Bapak saya sendiri sudah meninggal September 2011 yang lalu jadi sekarang saya cuma punya seorang Bapak jadi gada istilah Bapak dan Bapak Mertua, adanya ya cuma Bapak. Kalau Ibu juga gag membedakan antara ibu kandung dan ibu mertua, hanya panggilan saja yang berbeda. Ibu saya dipanggil Ibu dan Ibu dari mas misua dipanggil Ibuk (pakai huruf "k" di akhirannya dengan logat ngapak yang khas, hehehe). Kembali ke topik utama, yakni bercerita tentang Bapak saya. Beliau tahun ini genap berusia 55 tahun. Tapi, semangatnya masih seperti usia 20-an. Beliau tipikal pemimpin yang suka turun langsung ke lapangan, menikmati hidup dengan menekuni hobi memelihara ikan, dan kepala sekolah merangkap guru Pramuka yang profesional. Pramuka? Iya, Bapak saya adalah fans berat Pramuka. Saya yang gag suka Pramuka pun takjub dengan beliau. Di zaman sekarang beliau masih semangat menularkan virus-virus ke-Pramuka-an di tengah menurunnya minat pelajar terhadap Pramuka, contohnya saya *ups* hehehe. Tiap pulang ke rumah, beliau pasti ada bercerita tentang Pramuka. Bagian paling bikin saya melongo dan menarik adalah saat beliau cerita kalau dulu beliau sempat mengejar gelar sarjana di bidang Pramuka dan selama proses menuju ke tahap itu Ibuk melahirkan seorang anak laki-laki dan akhirnya diberi nama "Pandu" yang artinya Pramuka, ya itu mas Pandu itu misua saya, hihihi. Tapi, berhubung ada sesuatu hal akhirnya Bapak bersikap realistis mengurungkan niatnya meraih gelar sarjana Pramuka dan lebih memilih jadi guru Pramuka dan memilih menularkan virus Pramuka kepada murid beliau. Gag masalah gag dapat gelar sarjana Pramuka, yang penting masih berkecimpung di dunia per-Pramuka-an. Asyik deh ini besok kalau sudah punya anak bisa diajarin Eyang Kakungnya tentang Pramuka, hihihi. Bagi yang ingin mendengarkan kisah lengkap tentang Pramuka dari Bapak saya atau malah ingin berguru tentang Pramuka boleh loh maen ke rumah Bapak saya di Kedunggede, Lumbir, Banyumas. Serius ini. Orang tua kami sangat welcome berteman dengan siapa saja asal niatnya baik.

Bapak dan Ibuk edisi dinas luar sekalian patjaran ke Candi Borobudur

Sekali lagi, selamat ulang tahun Bapak. Selalu so sweet sama Ibuk, semangat berkarya terus, dan semoga semangat berkaryanya terus menurun ke anak cucu cicit dan generasi berikutnya. Salam dari anak-anakmu dari Jakarta, hihihi.

-Dian-

10/14/2014

Bedak untuk Menghilangkan Bau Keringat (MBK)

Selama ini saya cuma tau deodorant yang efektif untuk menghilangkan bau keringat terutama keringat yang di daerah ketiak. Dan deodorant yang sering diapakai di keluarga saya adalah merk Re*ona yang terkenal itu. Tapi, sehebat apapun tagline iklan Re*ona yang mengklaim kalau tidak membuat noda kuning di baju, sekarang saya sudah tidak tergoda lagi memakai merk deodorant itu. Faktanya adalah deodorant tersebut merusak serat kain. Walaupun tidak menimbulkan noda kuning di baju tapi kainnya jadi kaku dan kadang sesekali bikin gatel di ketiak.

Saya sekarang lebih memilih pakai bedak MBK yang emang lebih efektif menyerap keringat jadi gag bikin bau ketek dan walaupun berupa bedak tapi gag bikin burket. Apalagi harganya juga lebih murah (+/- 15.000 per kardus yang isinya 24 sachet), jadi lebih milih bedak MBK banget daripada deodorant, hehehe. Bedak MBK ada dua varian dan masing-masing varian punya dua macam kemasan. Variannya dibedakan berdasarkan warna bungkus bedaknya, yakni putih dan abu-abu. Untuk wadah putih, aroma bedaknya cenderung kurang wangi alias biasa saja. Sedangkan untuk wadah abu-abu, aroma bedaknya cenderung lebih wangi dan saya lebih suka memakai bedak kemasan warna abu-abu ini. Untuk kemasannya tersedia dalam bentuk sachet dan wadah bulat. Saya lebih suka yang kemasan sachet karena lebih enak kalau dibawa ke mana pun. Saya biasanya beli satu kardus yang berisi 24 kemasan sachet dipakai berdua dengan suami dan baru habis setelah 2 bulan paling cepet. irit kan? murah dan lebih nyaman dipakai daripada deodorant pula. hihihi. Oia, bedak ini bisa dibeli di toserba atau toko di deket rumah (kalau di daerah Karanganyar sih), hehehe, belum pernah ngecek di supermarket jual atau nggak. Dan sesungguhnya bedak MBK ini sudah ada jauh sebelum deodorant bermunculan dan saya baru tahu keberadaan bedak ini awal tahun 2014 kemaren dong setelah dikasi tahu temen dan diledekin ke mana aja saya selama ini -,-

Nah, buat yang belum pernah tau penampakan bedak MBK dan penasaran pengen nyoba, berikut penampakannya:

yang kardus itu isinya 24 kemasan sachet

-Dian-